Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah lanskap politik global secara drastis termasuk di Indonesia. Ruang digital yang seharusnya menjadi arena pertukaran ide yang sehat kini sering kali dipenuhi oleh narasi-narasi yang dikonstruksi secara sengaja. Salah satu aktor utama dalam dinamika ini adalah buzzer politik. Fenomena buzzer bukan sekadar tren sesaat melainkan sebuah instrumen kekuatan yang memiliki pengaruh signifikan terhadap persepsi masyarakat dan kualitas demokrasi di jagat maya.
Evolusi dan Peran Buzzer dalam Ekosistem Digital
Secara terminologi buzzer merujuk pada individu atau akun yang memiliki kemampuan untuk menyebarkan pesan atau isu tertentu secara masif di media sosial. Dalam konteks politik buzzer sering kali bekerja secara terorganisir dengan agenda yang spesifik baik untuk membangun citra positif kandidat maupun menjatuhkan lawan politik. Mereka tidak bekerja secara organik melainkan sering kali digerakkan oleh kepentingan pragmatis atau dukungan finansial tertentu. Kekuatan utama buzzer terletak pada algoritma media sosial yang memprioritaskan interaksi tinggi sehingga narasi yang mereka bawa dapat dengan cepat masuk ke dalam lini masa masyarakat luas.
Manipulasi Opini dan Polarisasi Masyarakat
Kehadiran buzzer politik membawa dampak yang sangat terasa pada tingkat polarisasi masyarakat. Dengan menggunakan teknik “astroturfing” atau menciptakan kesan adanya dukungan publik yang luas secara artifisial buzzer mampu menggiring opini orang-orang yang masih ragu. Sayangnya narasi yang dibangun sering kali tidak didasarkan pada data atau fakta yang valid melainkan lebih menonjolkan sentimen emosional. Hal ini menciptakan sekat-sekat imajiner di tengah masyarakat di mana setiap individu cenderung hanya mengonsumsi informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan menutup diri dari perspektif berbeda yang pada akhirnya memperlebar jurang perpecahan.
Degradasi Kualitas Diskusi Publik
Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan dari fenomena ini adalah menurunnya kualitas diskusi publik. Ruang digital yang idealnya menjadi tempat deliberasi atau diskusi yang mendalam kini berubah menjadi medan pertempuran retorika. Buzzer sering kali menggunakan teknik ad hominem atau menyerang pribadi lawan bicara daripada substansi argumennya. Akibatnya isu-isu krusial yang menyangkut kebijakan publik atau kesejahteraan masyarakat justru tenggelam oleh kegaduhan yang tidak produktif. Ketika argumen rasional kalah oleh serangan siber maka kecerdasan kolektif bangsa dalam berdemokrasi sedang dipertaruhkan.
Ancaman Terhadap Kebebasan Berpendapat
Buzzer politik juga sering kali berperan dalam menciptakan iklim ketakutan di ruang digital. Penggunaan taktik perundungan siber (cyberbullying) dan doxing terhadap pihak-pihak yang kritis terhadap kekuasaan atau narasi tertentu membuat banyak pengguna media sosial memilih untuk diam. Fenomena ini dikenal dengan istilah “spiral of silence” di mana individu merasa terancam untuk menyuarakan pendapatnya karena takut akan serangan dari akun-akun anonim. Jika dibiarkan hal ini akan membunuh nalar kritis masyarakat dan menciptakan demokrasi semu yang hanya dikuasai oleh mereka yang memiliki sumber daya untuk menggerakkan pasukan digital.
Menuju Ruang Digital yang Lebih Sehat
Menghadapi tantangan ini diperlukan sinergi antara regulasi yang tegas literasi digital yang masif dan kesadaran etika dari para pengguna media sosial. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan mengoperasikan gawai tetapi juga kemampuan untuk memverifikasi informasi dan mengenali ciri-ciri akun buzzer. Masyarakat perlu didorong untuk lebih skeptis terhadap narasi yang terlalu memojokkan atau memuja satu pihak secara berlebihan. Tanpa upaya serius untuk membersihkan ruang digital dari praktik manipulasi buzzer masa depan diskusi publik kita akan terus terjebak dalam pusaran hoaks dan permusuhan yang merugikan bangsa.












